Sunday, 13 July 2014

Menjelang Perpisahan (4)

      "Ini berkasnya yah. Tolong simpankan berkas aku juga, kalau bisa titip ya, kalau mau minta tanda tangan dosennya". Begitulah sikapnya, seakan hari ini sama seperti hari biasa, seakan besokpun akan bertemu lagi. Tak lama dia bicara lagi, 
      "Ai, kalau mau konsul judul, sms ya, nanti aku usahakan kesini." 
Bagaimana aku harus bersikap coba? aku tidak tahu apa dia serius atau hanya agar aku tidak sedih. Dia seperti berharap aku tidak melepasnya dengan meminta aku untuk tetap menghubunginya, dan aku uda tau dia. Pasti, nantinya kalau aku hubungi dia seperti yang dia pinta hari ini, dia akan bersikap biasa aja atau bahkan sudah lupa. Sedangkan aku akan selalu ingat setiap perkataanya dan apapun maunya akan aku sanggupin. 

       Aku sakit Dim seperti ini. Dan kamu tahu, saat matamu terus melirik ke jam tangan, aku merasa kamu udah benar - benar siap untuk pergi. Tapi, kamu seperti berusaha buat tenangin aku dengan bilang tunggu jam 2 yah, terus uda jam 2 tepat, kamu bilang 5 menit lagi yah, 2 menit lagi yah. Dim, kamu tuh bisa aja tinggal pergi dan tidak perlu pedulikan aku. Toh, ujung - ujungnya kamu pergi juga kan. 
       Sudah berapa sering kamu melepas dan merantai hati ini, Dim? Kamu tak melepasku untuk selamanya, kamupun tak bersamaku untuk selamanya. Dan aku sibodoh ini, terima aja. karena apa? karena aku SAYANG kamu Dim, tanpa melihat perbedaan diantara kita, aku tulus, ikhlas, sesakit apapun akhirnya. Yah, sering dada ini sesak karena sakit hati yang menusuk, tapi sering pula hati ini berdebar gugup mendapati sejuta perhatianmu. Dan sebab itulah, kalau aku sakit karena kamu, obatnya ya cuma kamu dim, bahkan kalau aku lagi sedih karena hal lain, aku ingin cerita ke kamu, saat bahagiapun aku ingin kamu tahu. Aku hanya bisa jujur padamu.

Aisyah selalu mengingat hari terakhirnya bersama Dimas, yang tak berkesan apa - apa sebenarnya. Hanya saja dia seperti kehilangan arah dan saat Dimas pergipun, diam - diam dia mengikutinya dari belakang hingga dia berhenti dan akhirnya dia sendiri, dan kembali pulang. 

Seperti halnya anak burung yang belajar terbang sendiri agar bisa bebas dari sarang yang membelenggunya, sementara gagak dengan sigapnya terbang bebas menuju birunya langit, terbang begitu tinggi dan ia bisa saja kembali ataupun menempati tempat yang baru. 

Menjelang Perpisahan (3)

     Selamat tidur dim, semoga besok baik" saja, semoga besok aku masih bisa lihat kamu.
aku membaca smsnya setelah pagi begini. sudah hampir jam 10. mungkin lebih baik hari ini aku bertemu dengannya, mumpung ada alasan untuk bertemu. Aku tidak ingin menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan terakhir dengannya, biarlah pertemuan hari ini sama seperti hari biasa, tidak ada kata berpisah atau moment yang harus dibuat indah.

      Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh kudus.
      Seperti pada permulaan
      sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad
      Amin.

      Dan kini aku telah sampai ditempatku menghabiskan pagi, dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Mungkin ini hari terakhir aku disini sebelum aku pulang ke kampung halamanku dan kembali lagi kesini untuk wisuda. 
      Dan akhirnya aku melihat dia berdiri didepanku, terlihat dari belakang hijabnya yang panjang dan berlapis dua menutupi auratnya. Saat dia berbalik menghadapku, dia tersenyum. Senyum yang menyedihkan bagiku, karena aku harus segera menutup kisah ini. Entah kenapa aku bisa sangat dekat dengannya dan merasa bahagia didekatnya tapi aku sadar, aku tidak bisa melangkah lebih dekat meskipun aku ingin.

  X︹X      "Aduh perut aku sakit." rintihnya.

 (ˆ⌣ˆԅ)    "umh.. pantasan bau". gurauku.

 (¬_¬")       "isshh, bukan itu, aku lagi dapet." balasnya. 

 (σ`▽´)-σ   "Jadi gak puasa?" tanyaku. 

 (ಠ.ಠ)         "ya gak." jawabnya, sambil memegang perut. 

      Akupun mengajaknya ke koperasi terdekat dan hasilnya memang benar gak ada obat untuk wanita pms disana. Then, mau gak mau dia harus tahan dulu dan melanjutkan ke misi awal. Hasilnyapun nihil, karena waktu istrahat, bagian admin kampuspun tutup. 

 ´._.`  "Jadi, kapan lagi ngurusnya?" tanyanya. 

  ❛_❛     "Kita cari obat dulu ya." ucapku.

 ⌣́_⌣̀   "Gak usah. Kamu juga udah mau pulang kan." jawabnya pelan.

       Diapun duduk dibangku panjang yang kosong itu, sambil melihat sekitar kampus yang terasa sangat sepi saat ini. Matanya terlihat kosong. Aku sudah paham betul sifatnya. Akupun bercerita banyak untuknya, dan seperti biasa aku mendapati keceriaannya lagi dengan tawanya yang lepas. 

     "Ini berkasnya yah. Oya, tolong simpankan berkas aku juga. Kalau bisa, titip ya kalau mau minta tanda tangan ama dosennya." Ucapku padanya.

      Lagi, tatapan mata kosong itu yang aku lihat. Aisyah....... aku harus bagaimana? Cepat atau lambat hari ini pasti tiba, hari dimana kita harus melanjutkan kehidupan dikotak lain. Aku harap kamu bisa Aisyah dan aku yakin kamu pasti bisa. Memang, melangkah untuk melepaskan akan sulit dibanding melangkah untuk bersama. Karena itu, jika melangkah untuk bersama, rintangan sebesar apapun yang menerpa akan bisa dilalui. Tapi dikasus kita, akan lebih berat yang dihadapi jika bersama. Bukankah sebahagia apapun kita, akan menderita juga jika kebahagiaan kita melukai banyak orang? Bukan kebahagiaan seperti itu yang aku mau.

Sunday, 6 July 2014

Menjelang Perpisahan (2)

        Deruan suara ombak terdengar sangat kencang, angin malam begitu dingin menusuk hingga ke tulang - tulangku, badan ini merengkuk diatas pasir yang beralaskan tikar, namun tangan ini merasa sangat hangat saat ia menggenggam jemariku.
        Tangannya menggenggam jemariku begitu erat, aku tak mampu untuk menahan senyum dan membuka mataku. Tuhan, aku merasakan kasihnya yang tulus, terpancar dari tatapan matanya yang masih terjaga melihatku. Saat ini, aku merasa hanya ada dia, aku, dan sang malam. Aku tak lagi menghiraukan keberadaan teman - teman yang lainnya. aku ingin tetap tidur disampingnya.

        aku merasakan lagi jari - jarinya yang indah menggenggam erat jemariku, tak lama jari - jari yang indah itu membelai rambutku dengan perlahan, detak jantungku mulai berdetak lebih kencang. Apakah ini yang aku inginkan? dia menyentuh wajahku, detak jantungku semakin berdebar, nafasku menjadi tidak normal, seperti sedang lari maraton. Lalu, ibu jarinya menyentuh bibirku. Apakah jantungku mulai copot? Aku takut untuk membuka mata, ia pun pasti tau bahwa aku masih terjaga, dan menyadari semuanya. tiba - tiba telinga ini mendengar suara, nyanyian? Dia bernyanyi untukku?


       "Ku ingin kau milikku.. Oh baby I'll take you to the sky, forever you and I, you and I.. Dan kita, kan s'lalu bersama, cintaku selamanya jika kamu milikku, milikku..."

       Dia membuat hatiku tersenyum. Jarikupun menyentuh bibirnya dengan lembut, aku berharap ia segera tidur. Dia membuatku tenang malam ini, suaranya begitu indah dan lembut, aku bahagia malam ini. Aku akan segera bermimpi indah, bermimpi tentangnya.

        Dia, wanita yang sangat rumit dan baginya mungkin akupun begitu. terkadang dihadapanku, dia begitu ceria dan bisa menjadi peri dihatiku, seperti saat ini. Aku sangat ingin terus bersamanya, dengan dia yang seperti ini dengan lagu yang ia suka, seakan lagu itu adalah ungkapan perasaannya terhadapku. 

        Dia tak segan menunjukkan bahwa dia sangat mencintaiku membuatku tersenyum bahagia. Namun, ada kalanya dia menjadi begitu dingin, meskipun dia bersikap seperti itu karena aku yang sering bersikap dingin. Walau begitu, saat - saat itulah yang membuat aku merindukannya, karena jangankan untuk tersenyum, untuk melihat ke arahku saja tidak. Tapi, satu hal yang aku tahu setiap kali dia bersikap dingin, dia sangat merindukanku. Seringkali perasaanku dibuat jungkir balik, jatuh bangun, karena sikapnya, tak lama dia mengabaikanku, tiba - tiba saja, dia mengirim pesan dengan sangat manis ditengah malam, mengungkapkan betapa ia merindukanku.

        Terlepas dari semua kenangan itu, malam ini, aku tak bisa berbuat banyak, aku tak bisa menjanjikan apa - apa kepadanya, aku hanya mengalir seperti air, tak punya pendirian atas kisah ini. Akhir - akhir ini, diapun sering terlihat rapuh karena perpisahan yang tak lama lagi. aku tak ingin melihat dia sedih, tapi aku tidak tahu yang harus aku lakukan. Andai dia tahu akupun tak ingin dia pergi.


        Lagu indah bermakna cinta yang bahagia inipun akan terdengar sangat menyedihkan dikala lagu ini sedang diputar di cafe atau ditempat - tempat lain atau ada tetanggaku nanti yang memutar lagu ini, karena aku tahu, saat itu dia sudah tak didekatku lagi. Aku t'lah pergi ke kota lain, cerita tentangnya dan kampusku akan berakhir begitu saja, dan kelak kondisi baru yang nanti dihadapi akan merubah perasaan aku maupun dia menjadi tak berbekas.