"Ini berkasnya yah. Tolong simpankan berkas aku juga, kalau bisa titip ya, kalau mau minta tanda tangan dosennya". Begitulah sikapnya, seakan hari ini sama seperti hari biasa, seakan besokpun akan bertemu lagi. Tak lama dia bicara lagi,
"Ai, kalau mau konsul judul, sms ya, nanti aku usahakan kesini."
Bagaimana aku harus bersikap coba? aku tidak tahu apa dia serius atau hanya agar aku tidak sedih. Dia seperti berharap aku tidak melepasnya dengan meminta aku untuk tetap menghubunginya, dan aku uda tau dia. Pasti, nantinya kalau aku hubungi dia seperti yang dia pinta hari ini, dia akan bersikap biasa aja atau bahkan sudah lupa. Sedangkan aku akan selalu ingat setiap perkataanya dan apapun maunya akan aku sanggupin.
Aku sakit Dim seperti ini. Dan kamu tahu, saat matamu terus melirik ke jam tangan, aku merasa kamu udah benar - benar siap untuk pergi. Tapi, kamu seperti berusaha buat tenangin aku dengan bilang tunggu jam 2 yah, terus uda jam 2 tepat, kamu bilang 5 menit lagi yah, 2 menit lagi yah. Dim, kamu tuh bisa aja tinggal pergi dan tidak perlu pedulikan aku. Toh, ujung - ujungnya kamu pergi juga kan.
Sudah berapa sering kamu melepas dan merantai hati ini, Dim? Kamu tak melepasku untuk selamanya, kamupun tak bersamaku untuk selamanya. Dan aku sibodoh ini, terima aja. karena apa? karena aku SAYANG kamu Dim, tanpa melihat perbedaan diantara kita, aku tulus, ikhlas, sesakit apapun akhirnya. Yah, sering dada ini sesak karena sakit hati yang menusuk, tapi sering pula hati ini berdebar gugup mendapati sejuta perhatianmu. Dan sebab itulah, kalau aku sakit karena kamu, obatnya ya cuma kamu dim, bahkan kalau aku lagi sedih karena hal lain, aku ingin cerita ke kamu, saat bahagiapun aku ingin kamu tahu. Aku hanya bisa jujur padamu.
Aisyah selalu mengingat hari terakhirnya bersama Dimas, yang tak berkesan apa - apa sebenarnya. Hanya saja dia seperti kehilangan arah dan saat Dimas pergipun, diam - diam dia mengikutinya dari belakang hingga dia berhenti dan akhirnya dia sendiri, dan kembali pulang.
Seperti halnya anak burung yang belajar terbang sendiri agar bisa bebas dari sarang yang membelenggunya, sementara gagak dengan sigapnya terbang bebas menuju birunya langit, terbang begitu tinggi dan ia bisa saja kembali ataupun menempati tempat yang baru.
"Ai, kalau mau konsul judul, sms ya, nanti aku usahakan kesini."
Bagaimana aku harus bersikap coba? aku tidak tahu apa dia serius atau hanya agar aku tidak sedih. Dia seperti berharap aku tidak melepasnya dengan meminta aku untuk tetap menghubunginya, dan aku uda tau dia. Pasti, nantinya kalau aku hubungi dia seperti yang dia pinta hari ini, dia akan bersikap biasa aja atau bahkan sudah lupa. Sedangkan aku akan selalu ingat setiap perkataanya dan apapun maunya akan aku sanggupin.
Aku sakit Dim seperti ini. Dan kamu tahu, saat matamu terus melirik ke jam tangan, aku merasa kamu udah benar - benar siap untuk pergi. Tapi, kamu seperti berusaha buat tenangin aku dengan bilang tunggu jam 2 yah, terus uda jam 2 tepat, kamu bilang 5 menit lagi yah, 2 menit lagi yah. Dim, kamu tuh bisa aja tinggal pergi dan tidak perlu pedulikan aku. Toh, ujung - ujungnya kamu pergi juga kan.
Sudah berapa sering kamu melepas dan merantai hati ini, Dim? Kamu tak melepasku untuk selamanya, kamupun tak bersamaku untuk selamanya. Dan aku sibodoh ini, terima aja. karena apa? karena aku SAYANG kamu Dim, tanpa melihat perbedaan diantara kita, aku tulus, ikhlas, sesakit apapun akhirnya. Yah, sering dada ini sesak karena sakit hati yang menusuk, tapi sering pula hati ini berdebar gugup mendapati sejuta perhatianmu. Dan sebab itulah, kalau aku sakit karena kamu, obatnya ya cuma kamu dim, bahkan kalau aku lagi sedih karena hal lain, aku ingin cerita ke kamu, saat bahagiapun aku ingin kamu tahu. Aku hanya bisa jujur padamu.
Aisyah selalu mengingat hari terakhirnya bersama Dimas, yang tak berkesan apa - apa sebenarnya. Hanya saja dia seperti kehilangan arah dan saat Dimas pergipun, diam - diam dia mengikutinya dari belakang hingga dia berhenti dan akhirnya dia sendiri, dan kembali pulang.
Seperti halnya anak burung yang belajar terbang sendiri agar bisa bebas dari sarang yang membelenggunya, sementara gagak dengan sigapnya terbang bebas menuju birunya langit, terbang begitu tinggi dan ia bisa saja kembali ataupun menempati tempat yang baru.
No comments:
Post a Comment