Selamat tidur dim, semoga besok baik" saja, semoga besok aku masih bisa lihat kamu.
aku membaca smsnya setelah pagi begini. sudah hampir jam 10. mungkin lebih baik hari ini aku bertemu dengannya, mumpung ada alasan untuk bertemu. Aku tidak ingin menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan terakhir dengannya, biarlah pertemuan hari ini sama seperti hari biasa, tidak ada kata berpisah atau moment yang harus dibuat indah.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh kudus.
Seperti pada permulaan
sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad
Amin.
Dan kini aku telah sampai ditempatku menghabiskan pagi, dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Mungkin ini hari terakhir aku disini sebelum aku pulang ke kampung halamanku dan kembali lagi kesini untuk wisuda.
Dan akhirnya aku melihat dia berdiri didepanku, terlihat dari belakang hijabnya yang panjang dan berlapis dua menutupi auratnya. Saat dia berbalik menghadapku, dia tersenyum. Senyum yang menyedihkan bagiku, karena aku harus segera menutup kisah ini. Entah kenapa aku bisa sangat dekat dengannya dan merasa bahagia didekatnya tapi aku sadar, aku tidak bisa melangkah lebih dekat meskipun aku ingin.
X︹X "Aduh perut aku sakit." rintihnya.
(ˆ⌣ˆԅ) "umh.. pantasan bau". gurauku.
(¬_¬") "isshh, bukan itu, aku lagi dapet." balasnya.
(σ`▽´)-σ "Jadi gak puasa?" tanyaku.
(ಠ.ಠ) "ya gak." jawabnya, sambil memegang perut.
Akupun mengajaknya ke koperasi terdekat dan hasilnya memang benar gak ada obat untuk wanita pms disana. Then, mau gak mau dia harus tahan dulu dan melanjutkan ke misi awal. Hasilnyapun nihil, karena waktu istrahat, bagian admin kampuspun tutup.
´._.` "Jadi, kapan lagi ngurusnya?" tanyanya.
❛_❛ "Kita cari obat dulu ya." ucapku.
⌣́_⌣̀ "Gak usah. Kamu juga udah mau pulang kan." jawabnya pelan.
Diapun duduk dibangku panjang yang kosong itu, sambil melihat sekitar kampus yang terasa sangat sepi saat ini. Matanya terlihat kosong. Aku sudah paham betul sifatnya. Akupun bercerita banyak untuknya, dan seperti biasa aku mendapati keceriaannya lagi dengan tawanya yang lepas.
"Ini berkasnya yah. Oya, tolong simpankan berkas aku juga. Kalau bisa, titip ya kalau mau minta tanda tangan ama dosennya." Ucapku padanya.
Lagi, tatapan mata kosong itu yang aku lihat. Aisyah....... aku harus bagaimana? Cepat atau lambat hari ini pasti tiba, hari dimana kita harus melanjutkan kehidupan dikotak lain. Aku harap kamu bisa Aisyah dan aku yakin kamu pasti bisa. Memang, melangkah untuk melepaskan akan sulit dibanding melangkah untuk bersama. Karena itu, jika melangkah untuk bersama, rintangan sebesar apapun yang menerpa akan bisa dilalui. Tapi dikasus kita, akan lebih berat yang dihadapi jika bersama. Bukankah sebahagia apapun kita, akan menderita juga jika kebahagiaan kita melukai banyak orang? Bukan kebahagiaan seperti itu yang aku mau.
aku membaca smsnya setelah pagi begini. sudah hampir jam 10. mungkin lebih baik hari ini aku bertemu dengannya, mumpung ada alasan untuk bertemu. Aku tidak ingin menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan terakhir dengannya, biarlah pertemuan hari ini sama seperti hari biasa, tidak ada kata berpisah atau moment yang harus dibuat indah.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh kudus.
Seperti pada permulaan
sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad
Amin.
Dan kini aku telah sampai ditempatku menghabiskan pagi, dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Mungkin ini hari terakhir aku disini sebelum aku pulang ke kampung halamanku dan kembali lagi kesini untuk wisuda.
Dan akhirnya aku melihat dia berdiri didepanku, terlihat dari belakang hijabnya yang panjang dan berlapis dua menutupi auratnya. Saat dia berbalik menghadapku, dia tersenyum. Senyum yang menyedihkan bagiku, karena aku harus segera menutup kisah ini. Entah kenapa aku bisa sangat dekat dengannya dan merasa bahagia didekatnya tapi aku sadar, aku tidak bisa melangkah lebih dekat meskipun aku ingin.
X︹X "Aduh perut aku sakit." rintihnya.
(ˆ⌣ˆԅ) "umh.. pantasan bau". gurauku.
(¬_¬") "isshh, bukan itu, aku lagi dapet." balasnya.
(σ`▽´)-σ "Jadi gak puasa?" tanyaku.
(ಠ.ಠ) "ya gak." jawabnya, sambil memegang perut.
Akupun mengajaknya ke koperasi terdekat dan hasilnya memang benar gak ada obat untuk wanita pms disana. Then, mau gak mau dia harus tahan dulu dan melanjutkan ke misi awal. Hasilnyapun nihil, karena waktu istrahat, bagian admin kampuspun tutup.
´._.` "Jadi, kapan lagi ngurusnya?" tanyanya.
❛_❛ "Kita cari obat dulu ya." ucapku.
⌣́_⌣̀ "Gak usah. Kamu juga udah mau pulang kan." jawabnya pelan.
Diapun duduk dibangku panjang yang kosong itu, sambil melihat sekitar kampus yang terasa sangat sepi saat ini. Matanya terlihat kosong. Aku sudah paham betul sifatnya. Akupun bercerita banyak untuknya, dan seperti biasa aku mendapati keceriaannya lagi dengan tawanya yang lepas.
"Ini berkasnya yah. Oya, tolong simpankan berkas aku juga. Kalau bisa, titip ya kalau mau minta tanda tangan ama dosennya." Ucapku padanya.
Lagi, tatapan mata kosong itu yang aku lihat. Aisyah....... aku harus bagaimana? Cepat atau lambat hari ini pasti tiba, hari dimana kita harus melanjutkan kehidupan dikotak lain. Aku harap kamu bisa Aisyah dan aku yakin kamu pasti bisa. Memang, melangkah untuk melepaskan akan sulit dibanding melangkah untuk bersama. Karena itu, jika melangkah untuk bersama, rintangan sebesar apapun yang menerpa akan bisa dilalui. Tapi dikasus kita, akan lebih berat yang dihadapi jika bersama. Bukankah sebahagia apapun kita, akan menderita juga jika kebahagiaan kita melukai banyak orang? Bukan kebahagiaan seperti itu yang aku mau.
No comments:
Post a Comment